Rabu, 18 Maret 2009

pendidikan dasar

Bangku Disita, Siswa SD Sekolah Bawa Tikar

Rabu, 18 Maret 2009 - 00:01 wib
text TEXT SIZE :
Share
Foto: Zia Ulhaq/Sindo

MALANG - Imbas dari kontroversi pengadaan mebeler pada 2006, membuat siswa Sekolah Dasar Negeri II Simojayan Kecamatan Ampelgading Kabupaten Malang wajib membawa tikar tiap masuk sekolah.

Meski tidak ada dalam mata pelajaran, wajib membawa tikar, menjadi kewajiban bagi siswa untuk bisa belajar. Siswa terpaksa melakukan kegiatan belajar sambil lesehan diatas tikar, bukan kursi dan meja.

Realitas ini menjadi suatu ironis saat APBN mengalokasikan anggaran kepada dunia pendidikan 20 persen. Apalagi, siswa tidak tahu menahu persoalan rumitnya kasus pengadaan mebeler hingga siswa harus terampas meja kursinya oleh perajin. Mereka tahunya belajar dengan semangat ketekunan, serta mengejar prestasi sebaik-baiknya.

"Kalau begini kondisinya, kita minta siswa bawa tikar. Kalau tidak, sulit mereka belajar mengajar. Tapi kita akan pel (membersihkan dengan air) dulu lantai kelas," jelas guru agama SDN Simojayan II, Nasikin.

Nasikin, sebelum diwawancarai, tampak memandang nanar meja kursi sekolah yang sedang dinaikkan ke atas bak truk. Matanya terlihat berkaca-kaca lantaran menahan sedih, karena diambilnya meja kursi serta sekolah kekurangan meja kursi.

Saat ditanya pun, Nasikin tampak tidak konsentrasi terhadap materi wawancara. Saat itu, tiga kali wartawan harus mengulang pertanyaan kepada guru agama ini. "Maaf ya mas, saya kurang denger," kilahnya.

Guru ini memang cukup terpukul, sebab, saat perajin mulai mengambil meja kursi kelas 6, dirinya sedang semangat-semangatnya bercerita tentang mata pelajaran agama. Saat tahu dan melihat meja kursi diambil oleh perajin bersama kepala sekolah, dirinya terlihat langsung lemas dan tidak bersemangat lagi menceritakan kisah hijrah Nabi Muhammad.

Tidak jauh beda dengan Nasikin, Sumarti, wali kelas 6 hanya terdiam dan tidak mampu berkata-kata saat meja kursi kelasnya diangkut ke atas truk. Dirinya hanya bisa mengucapkan terima kasih saat perajin berbaik hati memberikan 1 set bangku sekolah secara gratis. "Saya kasihan siswa, masa mereka belajar di atas lantai," ucapnya.

Perasaan hampir sama terjadi pada siswa, banyak siswa tidak setuju bangku sekolah mereka diambil. Dituturkan oleh salah seorang siswa kelas 6, Susi Andayani. Dia memohon agar bangku sekolah tidak diambil.

Sementara itu, Kasek Winarto, tampak tidak berdaya. Dirinya masih akan melaporkan tidak adanya kursi di 3 kelas ini kepada Dinas Pendidikan. "Saya suruh siswa agar bawa tikar. Buat alas belajar nantinya, itu yang bisa kita lakukan saat ini," katanya.

Total siswa SDN II Simojayan sebanyak 202. Kelas 6 sebanyak 28 siswa, kelas 5 berjumlah 35 siswa, serta kelas 4 sejumlah 31 siswa. Tanggal 23 Maret besok, akan diselenggarakan try out Unas. Pihak sekolah akan menempelkan nomer ujian nantinya di atas lantai, bukan ditempel di atas bangku.

Siswa sejatinya tidak terima dengan pengambilan kursi, ini tampak dari berbagai tulisan baik di atas kertas buku atau papan kelas. Nada protes dan kritik ditulis oleh siswa kelas 6 dan kelas 5. Di antaranya, "Jenazah Koruptor Tidak Layak Disalati" serta "Pemerintah Gak Duwe (tidak punya) Perasaan."

Siswa merasa dirugikan lantaran bangku kesayangan mereka diambil. Apalagi, saat ditanya, mereka sudah amat senang dengan meja kursi mereka. Bahkan, seringkali karena rebutan kursi untuk diduduki selama belajar, mereka harus bersitegang terlebih dulu dengan teman-teman sekelasnya. Kini, bangku yang diperebutkan raib dari sekolah mereka. Yang ada hanya tikar untuk mereka duduki. (Zia Ulhaq/Sindo/ful)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar